Sepak Bola
Trending

Mengenal Supporter dan Macam-Macam Ciri Khas nya

ACEOFNEWS – Mengenal Supporter dan Macam-Macam Ciri Khas nya, kalau kalian jadi supporter harus bisa memahami ini ya.

S U P P O R T E R
Menurut Hinca (2007), pengertian suporter atau fans club adalah sebuah organisasi yang terdiri dari sejumlah orang yang bertujuan untuk mendukung sebuah klub sepak bola.

Suporter harus berafiliasi dengan klub sepak bola yang didukungnya, sehingga perbuatan suporter akan berpengaruh terhadap klub yang didukungnya.


Pengertian suporter menurut kamus besar Bahasa Indonesia adalah orang-orang yang memberikan dukungan, sokongan dalam berbagai bentuk disuatu situasi.

Suporter biasanya memiliki cara-cara dalam mendukung tim kesukaannya, seperti bernyanyi-nyanyi menyatakan dukungannya. Suryanto (1996) mengatakan Suporter adalah orang-orang yang memberikan dukungan atau support kepada satu tim yang di bela.  

Suporter dalam suatu pertandingan memiliki peran yang cukup penting. Suporter seakan membuat pemain menunjukkan permainan yang terbaik. Maka dari itu, tidak jarang tim yang didukung supoter meraih kemenangan. Jadi suporter memiliki peran penting dalam cabang olahraga.banyak macam-macam nama , cirikhas dan arti dalam supporter :

( ULTRAS )

Ultras diambil dari bahasa latin yang mengandung artian ‘di luar kebiasaan’. Kalangan ultras tidak pernah berhenti menyanyi mendengungkan yel-yel lagu kebangsaan tim mereka selama pertandingan berlangsung. Mereka juga rela berdiri sepanjang pertandingan berlangsung (karena negara-negara yang terkenal dengan ultras nya seperti Argentina dan Italia, menyediakan tribun berdiri di dalam salah satu sudut stadion mereka). Selain itu pun para ultras paling senang menyalakan kembang api atau petasan di dalam stadion karena hal itu didorong untuk mencari perhatian, bahwa mereka hadir di dalam kerumunan manusia di dalam stadion.

“As an ultra I identify myself with a particular way of life. We are different from ordinary supporters because of our enthusiasm and excitement. This means, obviously, rejoicing and suffering much more acutely than everybody else “.

Nukilan kalimat dari seorang anggota Brigate Rossonere, salah satu ultras AC Milan, membantu kita untuk mengenali fenomena ultras. Ultras bukanlah sekadar kumpulan suporter (tifosi) biasa melainkan kelompok suporter fanatik nan militan yang mengidentifikasikan secara sungguh-sungguh dengan segenap hasrat dan melibatkan dengan amat dalam sisi emosionalnya pada klub yang mereka dukung.

Ultras mempelopori suporter yang amat terorganisir (highly organized) dengan gaya dukung ‘teatrikal’ yang kemudian menjalar ke negara-negara lain. Model tersebut sekarang telah begitu mendominasi di Prancis, dan bisa dibilang telah memberi pengaruh pada suporter Denmark ‘Roligans’, beberapa kelompok suporter tim nasional Belanda dan bahkan suporter Skotlandia ‘Tartan Army’

Model tersebut masyhur karena menampilkan pertunjukan-pertunjukan spektakuler meliputi kostum yang terkoordinir, kibaran aneka bendera, spanduk & panji raksasa, pertunjukan bom asap warna-warni, nyala kembang api (flares) dan bahkan sinar laser serta koor lagu dan nyanyian hasil koreografi, dipimpin oleh seorang CapoTifoso yang menggunakan megaphones untuk memandu selama jalannya pertandingan.

Dalam tradisi calcio, ultras adalah “baron” dalam stadion. Mereka menempati dan menguasai salah satu sisi tribun stadion, biasanya di belakang gawang, yang kemudian lazim dikenal dengan sebutan curva. Ultras tersebut menempati salah satu curva itu, baik nord (utara) atau sud (selatan), secara konsisten hingga bertahun-tahun kemudian. Utras dari klub-klub yang berbeda ditempatkan pada curva yang saling berseberangan. Selain itu, berlaku aturan main yang unik yaitu polisi tidak diperkenankan berada di kedua sisi curva itu.

Kelompok Ultras yang pertama lahir adalah (Alm.) Fossa dei Leoni, salah satu kelompok suporter klub AC Milan, pada tahun 1968. Setahun kemudian pendukung klub sekota sekaligus rival, Internazionale Milan, membuat tandingan yaitu Inter Club Fossati yang kemudian berubah nama menjadi Boys S.A.N (Squadre d’Azione Nerazzurra). Fenomena ultras sempat surut dan muncul lagi untuk menginspirasi dunia dengan aksi-aksi megahnya pada pertengahan tahun 1980-an.

Fenomena ultras sendiri diilhami dari demontrasi-demontrasi yang dilakukan anak-anak muda pada saat ketidakpastian politik melanda Italia di akhir 1960-an. Alhasil, sejatinya ultras adalah simpati politik dan representasi ideologis. Setiap ultra memiliki basis ideologi dan aliran politik yang beragam, meski mereka mendukung klub yang sama. Ultras memiliki andil “melestarikan” paham-paham tua seperti facism, dankomunism socialism

Mayoritas ketegangan antar suporter disebabkan oleh perbedaan pilihan ideologis daripada perbedaan klub kesayangan. Untungnya, dalam tradisi Ultras di Italia terdapat kode etik yang namanya Ultras codex. Salah satu fungsi kode etik itu “mengatur” pertempuran antar ultras tersebut bisa berlangsung lebih fair dan “berbudaya”. Salah satu etika itu adalah dalam hal bukti kemenangan, maka bendera dariultras yang kalah akan diambil oleh ultras pemenang. Kode etik lainnya ialah, seburuk apapun paratifosi itu mengalami kekejaman dari tifosi lainnya, maka tidak diperkenankan untuk lapor polisi.

Dewasa ini, ultras kerap dipandang sebagai lanjutan atau warisan dari periode ketidakpastian dan kekerasan politik 1960-an hingga 1970-an. Berbagai kesamaan pada tindak tanduk mereka disebut sebagai bukti dari sangkut paut ini. Kesamaan-kesamaan itu tampak pada nyanyian lagu – yang umumnya digubah dari lagu–lagu komunis tradisional – lambaian bendera dan panji, kesetiaan sepenuh hati pada kelompok dan perubahan sekutu dengan ultras lainnya, dan, tentunya, keikutsertaan dalam kekacauan dan kekerasan baik antara mereka sendiri dan melawan polisi!

Bentrok dengan polisi menjadi salah satu tabiat asli ultras. Bagi ultras, polisi adalah hal yang diharamkan alias A.C.A.B (All Cops Are Bastar*s). Sebulan sebelum Sandri terbunuh, muncul klaim dari pihak polisi yang menyatakan bahwa tak kurang dari 268 kelompok ultra dengan aspirasi politik, semuanya memiliki semangat kebencian pada polisi. Selain itu, masih menurut polisi, mayoritas kelompok tersebut berhubungan dengan gerakan ekstrim kanan yang fasis.

Hasil gambar untuk supporter ultras
Ultras

Tak hanya polisi, manajemen klub, staff pelatih dan bahkan pemain juga pernah mengalami perlakuan tidak menyenangkan dari ultras. Beberapa kelompok Ultras dalam menjamin dukungannya (terutama dalam pertandingan tandang), memaksa klub untuk memberi jatah tiket gratis, keuntungan perjalanan, dan bahkan hak atas merchandise. Ketegangan dengan pihak klub kerap berujung boikot dukungan pertandingan di kandang.

Namun sebenarnya ultras tidak seseram yang dibayangkan. Bahkan dibandingkan dengan Hools (FIRM) di inggris. Karena sebenarnya ultras menjauhi yang namanya keributan. (walaupun ada yg suka nyari masalah).Dan tidak semua kelompok ultras berafiliasi politik. memang ada yang kanan, kiri, merah, dsb…Tapi yang tidak bermain politik juga ada.

Pelatih atau manajer yang mundur (bukan karena dipecat manajemen klub) biasanya adalah produk dari tekanan ultras. Dari pihak pemain, Christian “Bobo” Vieri pernah mengalami teror fisik dari ultrasInter, termasuk dirusaknya salah satu properti bisnisnya, karena dianggap berkurang kadar loyalitasnya pada tim.

Dengan kemegahan dan kesuramannya ultras adalah fenomena khas Italia, representasi masyarakat Italia, dan identitas calcio. Seperti halnya kualitas Lega Serie A yang menjadi kiblat dunia sepak bola, seperti sistem catenaccio yang mengilhami banyak pelatih di dunia, maka aksi ultras di stadion pun menjadi rujukan dan referensi bagi suporter-suporter negara lain, termasuk kelompok suporter di Indonesia.

( HOLIGAN )

hooligan [ˈhuːligən]
Anak muda yang berperilaku buruk, merusak dan senang akan kultur kekerasan Hooligan Football ??hooliganism, Perilaku merusak dan senang akan kultur kekerasan yang terlebih dilakukan oleh anak muda. Kata Hooligan sendiri konon berawal dari pemberitaan di London Newspaper pada April – Mei 1894 yang mereportase penangkapan seorang anak muda berusia 19, Charles Clarken oleh pihak keamanan London, koran tersebut menuliskan pemuda tersebut sebagai ketua geng anak muda yang dikenal sebagai “Hooligans Boys”, anak mudaitu sendiri merupakan anggota “Hooley’s gang” yang terkenal sebagai geng anak muda dari London Selatan, Sumber lain mengklaim kata Hooligan berasal dari kriminal bernama Patrick Hoolihan. Dia adalah seorang tukang pukul dan seorang pencuri di wilayah Southwark kota London


HOLIGANISME SEPAK BOLA
Hooliganisme dalam sepakbola tidak memiliki definisi yang sahih dan spesifik, kosakatanya sendiri diciptakan oleh media massa, sejak pertengahan tahun 60-an dan sejak itu mereka menggunakan istilah “Hooligan” dalam berbagai insiden yang berbeda dalam ranah sepakbola, tentu saja dikaitkan dengan perilaku menyimpang dan kekerasan yang melibatkan supporter sepakbola.

Ada 2 tipikal spesifik dari penyimpangan yang diidentifikasikan sebagai aksi “Hooliganisme” yang pertama adalah penyimpangan spontan dengan level rendah yang dilakukan para supporter seputar pertandingan sepakbola (biasanya terjadi pada laga tandang di liga Inggris ) yang terakhir adalah kekerasan yang disengaja yang melibatkan “komunitas supporter” (baca: firms) yang mengidentikan diri mereka dengan salah satu klub sepakbola dan berkelahi dengan “firms” dari klub sepakbola yang berbeda,terkadang perkelahian tersebut terjadi pada ruang dan waktu yang jauh dari pertandingan sepakbola itu sendiri.

Hasil gambar untuk supporter HOLIGAN
HOLIGANISME

Oleh karena itu jika Anda menggunakan kosakata “hooliganisme sepak bola” dalam tulisan Anda, pastikan anda benar-benar memahami definisi tersebut!

( CURVA SUD )

Brigata Curva Sud atau lebih dikenal dengan sebutan BCS adalah salah satu komunitas pendukung / supporter kesebelasan sepak bola Brigata Curva Sud bermarkas di tribun selatan yang juga dipakai sebagai nama komunitas tersebut “Curva Sud”.

Brigata Curva Sud berbeda dengan suporter sepakbola Indonesia pada umumnya, mereka memiliki cara unik tersendiri untuk mendukung tim kesayangannya PSS Sleman. Salah satunya, melakukan koreografi disaat pertandingan berlangsung seperti ultras-ultras di Italia pada umumnya. Brigata Curva Sud mewajibkan anggotanya untuk bersepatu dan berpakaian rapi disaat mendukung tim kebanggaan mereka.

Hasil gambar untuk supporter curva sud
Curva Sud


Saat mendukung , mereka bernyanyi tanpa henti selama 2×45 menit dan uniknya mereka tidak pernah menyanyikan chant yang berbau rasis seperti kebanyakan suporter sepakbola di Indonesia. Chant mereka pun berbeda dengan suporter Indonesia kebanyakan, Brigata Curva Sud menyanyikan lagu yang masih asing bagi telinga awam penikmat sepakbola Indonesia karena liriknya pun yang terkadang menggunakan bahasa Inggris atau bahasa Italia.

( CURVA NORD )

Curva (jamak: kurva) adalah istilah Italia atau nama untuk berdiri melengkung tempat duduk yang terletak di stadion olahraga, khususnya di Italia, dinamakan demikian, awalnya, karena bentuknya melengkung atau lentur mereka. 

Curva memainkan bagian integral dalam budaya ultras dan sepak bola Eropa. Nord = Utara sedangkang Sud = Selatan. jadi Curva Nord = Tribun Utara, & Curva Sud = Tribun selatan. Mayoritas berdiri disebut sebagai “kurva” yang terletak di belakang gol di stadion masing-masing dan berisi pendukung paling vokal dalam diri mereka, sering dikenal sebagai ultras. 

Mereka biasanya melengkung dalam bentuk, dalam beberapa bentuk apakah kecil atau besar, sering karena adanya lintasan lari sekitar lapangan Stadion Giuseppe Meazza memberikan contoh dua berdiri menonjol disebut sebagai “kurva”, “. Curva Nord “dan” Curva Sud “, yang hanya berisi kurva kecil di sudut mereka, sementara Stadion Olimpico memberikan contoh dua berdiri sepenuhnya melengkung. Kurva A bisa diperluas dari salah satu sudut bendera yang lain atau berada terpusat di belakang gawang, berbatasan dengan dua bagian sudut terpisah untuk tiket atau tujuan organisasi.

Hasil gambar untuk supporter curva nord
Curva Nord

Menjadi rumah bagi pendukung yang paling terbuka bergairah dalam stadion, para curva biasanya titik fokus dari dukungan klub. Hal ini sering menjadi ajang menampilkan koreografer dramatis dukungan dan kadang-kadang, penolakan untuk tim atau klub. Ini menampilkan sering mengambil suatu kepentingan mereka sendiri, terutama dalam permainan yang melibatkan rival di mana kedua kelompok pendukung bertujuan untuk mengalahkan satu sama lain.

Di negara-negara tertentu, terutama yang di mana klub dan pendukung olahraga sangat mencerminkan budaya setempat, curva dapat menjadi sangat dipolitisir di alam. Oleh karena itu, tidak jarang untuk kurva yang akan dibagi menjadi faksi individu atau kelompok, baik secara sendiri maupun secara parsial, berdasarkan pada politik, dan satu kelompok untuk memegang kendali yang signifikan dari kurva dan penduduknya pada hari pertandingan.

( GARIS KERAS )

Dari kata GARIS ( —- ) dan KERAS , menurut yang diajari oleh Aby ketua GARIS KERAS PERSIJA JAKARTA , bukan berarti GARIS KERAS itu berperilaku keras , dari yang saya dapat , GARIS itu menandakan kebersamaan , menjaga erat , garis itu tidak ada putus nya , dan KERAS itu berperilaku TEGAS terhadap sesuatu yang negatif (meluruskan) ..

Hasil gambar untuk supporter garis keras
Garis Keras

Mereka adalah kelompok yang mempunyai prinsip keras dan erat pada janji nya seperti kata-kata ”AMPE MATI”dll , cara mereka di dalam stadion dengan mengenakan baju HITAM , berbagai macam tulisan tergantung club yang mereka pilih , bersatu , begabung dan mendukung dalam satu tribun/sektor , menyanyikan lagu dan mempunyai cirikhas yang berbeda , syal yang berbeda , dan ada syarat ketentuan untuk masuk anggota tersebut tentunya KARTU ANGGOTA.

Hasil gambar untuk kta garis keras
Contoh Kartu Anggota Garis Keras

Mereka juga mempunyai motivasi hidup seperti ini : Motivasi kami adalah keikhlasan, Jalan kami adalah perjuangan, Ikatan kami adalah Persaudaraan, Ideologi kami adalah kebenaran, Cita-cita kami hidup mulia atau mati.

Related Articles

Back to top button
Close