Others Sports

Jonatan Christie Cs Bisa Tiru Perjuangan Hendrawan di Olimpiade 2000

ACEOFNEWS– Menjelang Olimpiade 2020, mari mengenang sebuah kisah inspiratif dari pengalaman Hendrawan dua dekade lalu. Kisahnya cocok sekali ditiru para pebulutangkis muda, khususnya sektor tunggal putra.

Hendrawan akan dikenang, di antaranya, sebagai salah satu penyumbang medali untuk Indonesia di Olimpiade Sydney 2000. Tapi perjuangannya menyumbang medali itu sungguh tak mudah. Pada zamannya, Hendrawan tak hanya harus bersaing sengit dengan pemain dari negara lain tapi juga rekan senegara.

Saat itu paling tidak ada lima tunggal putra Indonesia yang berlomba-lomba masuk peringkat empat besar, demi mengamankan tiga tiket olimpiade. Mereka adalah Taufik Hidayat, Marlev Mainaky, Hendrawan, Hariyanto Arbi, dan Budi Santoso.

“Waktu itu saya saingan sama Budi dan Hari. Masih ada lima turnamen, tapi saya kena tifus dan kehilangan kesempatan di dua turnamen. Jadi sisa turnamennya hanya All England, Swiss Open, dan Japan Open 2000,” cerita Hendrawan dalam rilis yang diterima detikSport.

“Awalnya merasa down sekali karena kondisi itu. Lalu saya berkomitmen, saya harus bisa pulih karena bisa tersalip teman sendiri. Saya latihan lari di bukit Senayan yang naik turun. Saya sadar kalau soal kuat, mungkin saya tidak sekuat pemain lain, makanya saya latih semua kekurangan saya dan usaha lebih,” ucap dia menjelaskan.

Hendrawan berhasil tampil di Olimpiade Sydney 2000. Ajang multiajang olahraga terbesar di dunia itu sendiri yang menjadi pertama dan terakhir untuknya. Hendrawan masuk pelatnas di usia 21 tahun, usia yang bisa terbilang terlambat. Rata-rata atlet masuk pelatnas di usia yang lebih muda.

“Makanya, saya harus bisa atur peak performance termasuk di olimpiade. Musuh terbesar di olimpiade itu adalah situasi dan kemauan kita. Kalau terlalu mau juga nggak boleh, harus semangat, tapi tidak boleh menggebu-gebu, mengatur ini yang enggak gampang,” ungkap Hendrawan.

Perjuangan menembus Olimpiade 2000 tak berhenti sampai situ. Hendrawan harus menghadapi lawan-lawan tangguh. Tapi ia berhasil meraih perak.

Hendra, yang kini menjadi pelatih timnas bulutangkis Malaysia, menjadi runner up. Di final Olimpiade 2000 Sydney ia kalah dari Ji Xinpeng (China) dua game langsung 4-15, 13-15. Sementara itu, Indonesia dapat emas dari ganda putra Candra Wijaya/Tony Gunawan.

“Saat itu, saya merasa gagal karema di Indonesia, medali (perak) artinya gagal (juara). Tradisi kita itu emas olimpiade. Tapi teman saya bilang, ‘kamu tidak boleh berpikir begitu, karena kita adalah olympian, masuk olimpiade saja nggak gampang, apalagi dapat medali’ Tapi di bulutangkis kan nggak begitu, kami ditarget emas,” tutur mantan pemain kelahiran Malang, 27 Juni 1972 ini.

Dari kisah itu dia berharap atlet-atlet bulutangkis Indonesia saat ini, terutama para tunggal putra seperti Jonatan ChristieAnthony Sinisuka GintingFirman Abdul KholikShesar Hiren Rhustavito, dan lainnya bisa menggali inspirasi dari kegigihan para seniornya. Sebab, penentu kesuksesan seseorang pertama-tama adalah dari diri sendiri, bukan pelatih atau orang lain.

“Semua itu datang dari diri sendiri. Pelatih bisa mengantarkan kita ke satu titik tapi sisanya harus pemain yang usaha cari sendiri. Pelatih hanya membimbing dalam perjalanan menuju sukses tapi semua tergantung atletnya. Mereka yang menentukan,” ujarnya.

Related Articles

Back to top button
Close